Sabtu, 26 Februari 2011

PEMBAGIAN JAMAN MENURUT KEBUDAYAANNYA

ZAMAN PALEOLITHIKIM

       Manusia paleolithikum masih rendah sekali tingkat peradabannya. Hidupnya mangembara sebagai pemburu, penangkap ikan dan pengumpul bahan-bahan makanan, seperti buah-buahan, jenis-jenis ubi, keladi, dan jenis makanan lainnya. Jadi sebanyak-banyaknya hanya mengumpulkan bahan makanan saja (foodgathering).

      Jaman palaelithikum berlangsung sangat lama, kira-kira 600.000 tahun. Seakan-akan nampaklah betapa berat, sulit lagi uletnya perjuangan manusia untuk mencapai tingkat kemanusiaan yang sebenarnya, untuk mencapai kedudukan yang istimewa. Kita sudah ketahui bahwa menjelang akhir peistosen manusia telah menjadi manusia betul, homo sapien. Maka sebagai manusia di dalam jaman holocen pertumbuhannya tidak lagi di persoalkan. Manusia holocen kebudayaannya melalui jalan perkembangan terus, semakin lama semakin cepat, sesuai kemampuan dengan akalnya.sehingga dalam waktu kira-kira 20.000 tahun (sejak permulaan jaman holocen) kita mencapai tingkatan yang sangat jauh lebih dari apa yang di capai oleh manusia palaeolithikum.

      Setelah plestocen berganti dengan holocen, kebudayaan palaeolithikum tidak begitu lenyap melainkan masih berlangsung. Tetapi masih berlangsung. Di Indonesia kebudayaan palaeolithikum itu mendapat pula pengaruh-pengaruh baru dengan mengalirnya baru dari asia yang membawa corak lain. Kebudayaan baru itu di sebut kebudayaan <Mesolithikum>. Alat-alatb dari tulang dan juga flakes, yang di dapatkan  dalam jaman Palaeolithikum, mengambil bagian penting dalam jaman Mesolithikum.

      Kebudayaan mesolithikum itu di negeri kita terutama sekali di dapatkan bekas-bekasnya di Sumatra, jawa, Kalimantan, sulawesi dan baru-baru ini di flores. Dari peninggalan-peninggalan itu dapat di ketahui bahwa manusia jaman itu terutama masih hidup berburu dan menangkap ikan. Seperti juga pada jaman palaeolithikum. Tetapi sebagian sudah punya tempat tinggal tetap. Sehingga tidak mustahil bahwa bercocok tanam kecil-kecilan dan sangat sederhana sudah dikenalnya.

       Beka-bekas tempat tinggal mereka di temukan di pinggir pantai (kyokkenmoddinger) dan di dalam gua-gua (abris sous roche). Terutama di sanalah terdapat banyak bekas-bekas kebudayaan, di samping penemuan-penemuan lepas lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar